Bandara Kami

PT Angkasa Pura II (Persero) mengelola 16 bandara utama yang tersebar di Indonesia.

Pilih salah satu bandara untuk melihat informasi
Bandara Internasional Banyuwangi
submenu

Bandara Internasional Banyuwangi

Bandar Udara Internasional Banyuwangi (bahasa Inggris: Banyuwangi International Airport) (IATA: BWX, ICAO: WADY (sebelumnya WARB)) terletak di Desa Blimbingsari, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Bandara dengan landas pacu 2.250 meter ini dibuka pada 29 Desember 2010. Bandara ini diklaim sebagai bandara hijau pertama di Indonesia.

Bandar udara di wilayah Kabupaten Banyuwangi pada awalnya diinisiasi oleh Bupati Purnomo Sidik menggunakan yang terletak di Afdeling Sidomukti dan Afdeling Muktisari di Kecamatan Glenmore bekas landasan pacu pesawat capung yang digunakan untuk menyemprot pestisida ke hama wereng yang dibangun pada masa Bupati Djoko Supaat Slamet pada dekade 1970-an. Anggaran untuk proyek sudah disiapkan, dan material bangunan sudah sempat dikirim menuju lokasi namun tidak dilanjutkan karena Purnomo Sidik lengser dari jabatannya berhubungan dengan Pembantaian Banyuwangi 1998. Pembangunan selanjutnya dilanjutkan pada masa kepemimpinan Bupati Samsul Hadi. Lahan di Kecamatan Glenmore ini ternyata tidak layak untuk bandar udara karena topografi wilayah yang bergunung-gunung. Kemudian, melalui keputusan menteri (Kepmen) nomor 49 tahun 2003, ditentukan lahan untuk pembangunan bandara berada di wilayah Desa Blimbingsari yang pada saat itu masih menjadi bagian dari Kecamatan Rogojampi dengan koordinat geografis 08 18' 42.70" Lintang Selatan dan 114 20' 16.30" Bujur Timur.

Pembangunan kemudian terkendala pembebasan lahan yang memakan waktu bertahun-tahun berikutnya. Dalam periode ini dua bupati terjerat kasus korupsi penggelembungan harga tanah yang merugikan negara sejumlah Rp 40,99 miliar. Dua bupati tersebut adalah Bupati Samsul Hadi yang merugikan negara sejumlah Rp 21,23 miliar dan Bupati Ratna Ani Lestari senilai Rp 19,76 miliar. Pada periode 2004 hingga 2008 tetap dilakukan pembangunan bandara secara bertahap dengan pendanaan berasal dari APBN.

Pada tanggal 29 Desember 2008, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal melakukan kunjungan singkat ke Bandar Udara Blimbingsari Banyuwangi dengan didampingi oleh Bupati Ratna Ani Lestari beserta rombongan. Dalam kunjungan ini Menteri Perhubungan merasa optimis bahwa penerbangan di Kabupaten Banyuwangi dapat berkembang pesat dengan adanya bandar udara yang menurutnya cukup bagus dan ideal. Pada 23 Januari 2009, tim dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara melakukan evaluasi dan verifikasi terhadap Bandar Udara Blimbingsari Banyuwangi. Beberapa waktu kemudian, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengeluarkan surat nomor 167/DBU/II/2009 tertanggal 9 Februari 2009 tentang pemanfaatan Bandar Udara Blimbingsari Banyuwangi yang garis besar isinya adalah bahwa bandara dapat digunakan untuk lepas landas dan mendarat pesawat jenis CASA. Tanggal 26 Desember 2010 dilakukan proving flight ( uji kelayakan terbang ) pesawat milik PT Sky Aviation oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara sebagai salah satu syarat akan diadakannya penerbangan komersial dengan pesawat tersebut.

Bandara ini mulai digunakan oleh Bali International Flight Academy (BIFA) mulai 21 April 2009 untuk keperluan pelatihan lepas landas dan mendarat bagi para calon pilot. Untuk penerbangan komersil, mulai dibuka pada 29 Desember 2010 oleh maskapai Sky Aviation setelah sebelumnya diadakan uji kelayakan terbang pada 26 Desember 2010 menggunakan pesawat C208 Grand Caravan. Penerbangan ini sekaligus menjadi tanda diresmikannya Bandara Blimbingsari sebagai bandara komersil. Penandatanganan prasasti peresmian dilakukan oleh Wakil Menteri Perhungan Bambang Susantono, Gubernur Jawa Timur Soekarwo dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Bandara ini berubah nama menjadi Bandar Udara Banyuwangi pada tahun 2017, melalui surat Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 830 tahun 2017. Pada 22 Desember 2017, bandara ini dialihkan pengelolaannya ke Angkasa Pura II.

Selain berfungsi sebagai bandara komersial, Bandar Udara Banyuwangi juga digunakan untuk keperluan pendidikan penerbangan. Setelah sebelumnya Bali International Flight Academy (BIFA) menggunakan bandara ini, Kementerian Perhubungan mendirikan Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbangan Banyuwangi (LP3B) yang diresmikan pada 23 Desember 2013 yang kemudian berubah nama menjadi Balai Pendidikan dan Pelatihan Penerbang Banyuwangi (BP3B) melalui Permenhub RI PM/123/2015. Selain dua sekolah penerbangan di atas itu terdapat Mandiri Utama Flight Academy (MUFA).

Pada awal pembangunannya, Bandara Banyuwangi (saat itu masih bernama Bandara Blimbingsari) memiliki panjang landasan 900 m dan lebar 23 m. Kemudian agar dapat dijadikan bandara komersil, landasan diperpanjang hingga 1.400 m dan lebar 30 m dimana pembangunannya dimulai tahun 2008. Dua tahun setelah beroperasi, landasan kembali diperpanjang menjadi 1.800 m dengan ketebalan 27 PCN. Tahun 2015, untuk pengembangan menuju bandara internasional dan agar mampu mengakomodasi pesawat yang lebih besar, landasan kembali diperpanjang menjadi 2.250 meter dengan ketebalan 40 PCN.

Pada tahun 2015, Pemerintah mulai membangun terminal baru yang lebih besar. Pembangunan terminal baru ini memanfaatkan dana APBD Provinsi Jawa Timur senilai Rp 22,5 miliar dan APBD Kabupaten Banyuwangi senilai Rp 10,5 miliar. Anggaran ini dipergunakan untuk pembangunan terminal, aksesori, elektrikal, musala dan area parkir.

Terminal ini mengusung konsep hijau dan ramah lingkungan. Hal ini ditandai dengan penghawaan udara yang alami, penanaman tanaman di atap terminal, konservasi air dan sunroof untuk pencahayaan alami di siang hari. Selain itu terminal baru ini mengadopsi bentuk ikat kepala khas Suku Osing. Terminal yang didesain oleh Andra Matin ini diresmikan pada 2017.

Bandara ini membuka layanan penerbangan komersil dari maskapai Sky Aviation pada tanggal 29 Desember 2010. Pesawat yang digunakan adalah jenis Grand Caravan berkapasitas 9-10 orang dengan rute Banyuwangi-Surabaya. Pada tanggal 25 April 2011, Sky Aviation menambah armada di Bandara Banyuwangi dengan Fokker F50 berkapasitas 48 tempat duduk dan beroperasi di rute yang sama. Sky Aviation lalu menghentikan operasional rute ini pada 20 Oktober 2011 karena kalah bersaing dengan maskapai lain yang ada di Bandara Banyuwangi.

Merpati Nusantara Airlines sempat membuka rute Bandung-Semarang-Surabaya-Banyuwangi menggunakan pesawat MA60 berkapasitas 56 penumpang. Rute pulang pergi ini diresmikan 24 Agustus 2011, dihadiri oleh Bupati Abdullah Azwar Anas, Direktur Niaga PT. Merpati Nusantara Airlines Tonny Aulia Achmad, perwakilan Kemenhub dan Forkopimda Banyuwangi. Rute ini ditutup 9 April 2013 karena masalah keuangan yang membelit perusahaan tersebut.

Pada Mei 2014, Garuda Indonesia melalui sub-brand Explore Jet membuka rute Surabaya-Banyuwangi-Denpasar menggunakan pesawat ATR 72-600 dan Bombardier CRJ1000 NextGen.

Pada Mei 2014, Garuda Indonesia melalui sub-brand Explore Jet membuka rute Surabaya-Banyuwangi-Denpasar menggunakan pesawat ATR 72-600.

Mulai tahun 2017, diusahakan pembukaan rute langsung Jakarta Soekarno-Hatta ke Banyuwangi. Rute ini pertama kali diisi oleh maskapai NAM Air pada 16 Juni 2017 menggunakan pesawat Boeing 737-500 berkapasitas 150 tempat duduk. Dalam persemian ini dihadiri oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Presiden Direktur Sriwijaya Group Chandra Lie. Lalu, Garuda Indonesia juga mengisi rute ini pada 8 September 2017 menggunakan pesawat Bombardier CRJ1000 NextGen. Maskapai Citilink membuka penerbangan rute ini pada 15 Februari 2018 yang melayani penerbangan 2 kali sehari menggunakan Boeing 737-500 dan kemudian menggunakan Airbus A320 pada 9 Agustus 2018.

Pada Desember 2018, Bandar Udara Banyuwangi secara resmi melakukan penerbangan perdana rute internasional yakni Banyuwangi - Kuala Lumpur (Malaysia) dan sebaliknya.

Fasilitas

Teknis Bandara & Statistik

Tujuan Wisata

Peta Rute Penerbangan

Rute Penerbangan Bandara Internasional Banyuwangi

Market Opportunity

Airport Development